Minggu, 27 Mei 2012

MODAL KERJA


M O D A L  K E R J A
DEFINISI
Modal kerja meliputi seluruh aktiva lancar atau aktiva lancar dikurangi hutang lancar. Contoh manajemen modal kerja adalah manajemen kas, manajemen piutang manajemen persediaan.Terdapat tiga konsep definisi modal kerja yaitu :
  • Konsep kuantitatif
Konsep ini menunjukan jumlah dana ( fund) yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancer ( gross working capital ).
  • Konsep kualitatif:
Menitik beratkan pada kualitas modal kerja menurut konsep ini modal kerja adalah kelebihan aktiva lancar terhdap hutang lancar ( net working capital ). Sehingga menunjukan margin of protection ( tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek )
  • Konsep fungsional:
Menitik beratkan fungsi dari dana yang dimiliki dalam menghasilkan laba dari usaha pokok perusahaan yaitu current income dan future income.
TUJUAN  DAN SUMBER MODAL KERJA
Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya. Dimana sumber- sumber modal kerja berasal dari :
·         Hasil operasi perusahaan
·         Keuntungan dari pernjualan surat-surat berharga ( investasi jangka pendek )
·         Penjualan aktiva tidak lancar
·         Penjualan saham atau obligasi.
SEBAB PERUBAHAN MODAL KERJA
  • Adanya kenaikan sector modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan maka modal kerja akan bertambah
  • Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi,modal kerja kan bertambah
  • Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar, maka modal kerja akan bertambah
  •  Karena kerugian yang diderita oleh perusahaan, baik kerugian normal maupun kerugian exidentil.maka akan mengurangi modal kerja
  • Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang.maka akan mengurangi modal kerja
  • Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap maka akan mengurangi modal kerja
  • Pengambilan uang atau barang yang dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi.
MANFAAT MANAJEMEN  MODAL KERJA
  • Melindungi perusahaan terhadap krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar.
  • Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban-kewajiban tepat pada waktunya.
  • Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keuangan yang mungkin terjadi.
  • Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani konsumen
  • Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para langganannya.
  • Memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang atau jasa yang dibutuhkan.
  • Laporan modal kerja akan sangat berguna bagi management untuk mengadakan pengawasan terhadap modal kerja
LAPORAN MODAL KERJA
Laporan perubahan modal kerja merupakan ringkasan tentang hasil-hasil aktivitas keuangan suatu perusahaan dalam satu periode tertentu dan menyajikan sebab-sebab perubahan-peubahan posisi keuangan perusahaan tersebut
Contoh penyusunan “Laporan Modal Kerja” berikut ini diberikan data PT Jaya Makmur yang diperbandingkan antara 31 desember 1997 dengan neraca 31 desember 1998 sebagai berikut :
PT. JAYA MAKMUR
Neraca yang diperbandingkan
31 Desember 1997,1998


Laba ditahan tahun 1996 Rp771,400. dan laba bersih tahun 1997 Rp 1,000,000 di asumsikan jika tidak diketahui data lainnya, maka dari neraca yang diperbandingan tersebut dapat secara langsung dibuat “Laporan Perubahan Modal Kerja” sebagai berikut 

PT. JAYA MAKMUR
Laporan Perubahan Modal
Untuk Tahun 1998



Sumber Modal Kerja :

1)      Hasil Operasi : Laba                                        Rp. 521,900
 Depresiasi                               Rp.   83,500 
                                               -----------------   +
                                                Rp. 605,400
2)      Penjualan Saham                                             Rp. 600,000 
-----------------   +
       Rp1,205,400
Penggunaan Modal Kerja
1)      Pembelian Gedung                                          Rp.  400,000
2)      Pembelian Alat-alat Kantor                            Rp.  150,000
3)      Pembayaran Hutang Obligasi                         Rp.  150,000 
------------------  +
       Rp.  700,000
       ---------------  -
Kenaikan Modal Kerja                                                                               Rp.  505,400


            Dari laporan diatas maka PT JAYA MAKMUR mendapatkan  kenaikan modal kerja pada tahun 1998 sebesar Rp. 505,400 dimana sumbernya berasal dari hasil operasi dan penjualan saham.
Laporan modal kerja akan bertambah apabila aktiva lancar bertambah yang diimbangi atau dibarengi dengan perubahan dalam sector atau pos tidak lancar (non current account). Tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan misalnya penggunaan aktiva lancar untuk melunasi atau membayar hutang lancar.
Manajemen modal kerja yang sehat memperhatikan 2 masalah keputusan yang mendasar pada perusahaan :
  • Penentuan jumlah optimal investasi dalam aktiva lancar
  • Penentuan kombinasi yang tepat antara pembelanjaan utang lancar dan utang jangka panjang untuk mendukung investasi dalam modal kerja.


KEWIRAUSAHAAN


KEWIRAUSAHAAN

Konsep Dasar Kewirausahaan


Kewirausahaan pertama kali muncul pada abad 18 diawali dengan penemuan-penemuan baru seperti mesin uap, mesin pemintal, dll. Tujuan utama mereka adalah pertumbuhan dan perluasan organisasi melalui inovasi dan kreativitas. Keuntungan dan kekayaan bukan tujuan utama.

Secara sederhana arti wirausahawan (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. (Kasmir, 2007 : 18).

Pengertian kewirausahaan relatif berbeda-beda antar para ahli/sumber acuan dengan titik berat perhatian atau penekanan yang berbeda-beda, diantaranya adalah penciptaan organisasi baru (Gartner, 1988), menjalankan kombinasi (kegiatan) yang baru (Schumpeter, 1934), ekplorasi berbagai peluang (Kirzner, 1973), menghadapi ketidakpastian (Knight, 1921), dan mendapatkan secara bersama faktor-faktor produksi (Say, 1803). Beberapa definisi tentang kewirausahaan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

Richard Cantillon (1775)

Kewirausahaan didefinisikan sebagai bekerja sendiri (self-employment). Seorang wirausahawan membeli barang saat ini pada harga tertentu dan menjualnya pada masa yang akan datang dengan harga tidak menentu. Jadi definisi ini lebih menekankan pada bagaimana seseorang menghadapi resiko atau ketidakpastian

Jean Baptista Say (1816)

Seorang wirausahawan adalah agen yang menyatukan berbagai alat-alat produksi dan menemukan nilai dari produksinya.

Frank Knight (1921)

Wirausahawan mencoba untuk memprediksi dan menyikapi perubahan pasar. Definisi ini menekankan pada peranan wirausahawan dalam menghadapi ketidakpastian pada dinamika pasar. Seorang worausahawan disyaratkan untuk melaksanakan fungsi-fungsi manajerial mendasar seperti pengarahan dan pengawasan

Joseph Schumpeter (1934)

Wirausahawan adalah seorang inovator yang mengimplementasikan perubahan-perubahan di dalam pasar melalui kombinasi-kombinasi baru. Kombinasi baru tersebut bisa dalam bentuk :
  1. memperkenalkan produk baru atau dengan kualitas baru,
  2. memperkenalkan metoda produksi baru,
  3. membuka pasar yang baru (new market),
  4. Memperoleh sumber pasokan baru dari bahan atau komponen baru, atau
  5. menjalankan organisasi baru pada suatu industri. Schumpeter mengkaitkan wirausaha dengan konsep inovasi yang diterapkan dalam konteks bisnis serta mengkaitkannya dengan kombinasi sumber daya. Penrose (1963) Kegiatan kewirausahaan mencakup indentifikasi peluang-peluang di dalam sistem ekonomi. Kapasitas atau kemampuan manajerial berbeda dengan kapasitas kewirausahaan.

Harvey Leibenstein (1968, 1979)

Kewirausahaan mencakup kegiatan-kegiatann yang dibutuhkan untuk menciptakan atau melaksanakan perusahaan pada saat semua pasar belum terbentuk atau belum teridentifikasi dengan jelas, atau komponen fungsi produksinya belum diketahui sepenuhnya.

Salah satu kesimpulan yang bisa ditarik dari berbagai pengertian tersebut adalah bahwa kewirausahaan dipandang sebagai fungsi yang mencakup eksploitasi peluang-peluang yang muncul di pasar. Eksploitasi tersebut sebagian besar berhubungan dengan pengarahan dan atau kombinasi input yang produktif. Seorang wirausahawan selalu diharuskan menghadapi resiko atau peluang yang muncul, serta sering dikaitkan dengan tindakan yang kreatif dan innovatif. Wirausahawan adalah orang yang merubah nilai sumber daya, tenaga kerja, bahan dan faktor produksi lainnya menjadi lebih besar daripada sebelumnya dan juga orang yang melakukan perubahan, inovasi dan cara-cara baru.

Selain itu, seorang wirausahawan menjalankan peranan manajerial dalam kegiatannya, tetapi manajemen rutin pada operasi yang sedang berjalan tidak digolongkan sebagai kewirausahaan. Seorang individu mungkin menunjukkan fungsi kewirausahaan ketika membentuk sebuah organisasi, tetapi selanjutnya menjalankan fungsi manajerial tanpa menjalankan fungsi kewirausahaannya. Jadi kewirausahaan bisa bersifat sementara atau kondisional.

Kesimpulan lain dari kewirausahaan adalah proses penciptaan sesuatu yang berbeda nilainya dengan menggunakan usaha dan waktu yang diperlukan, memikul resiko finansial, psikologi dan sosial yang menyertainya, serta menerima balas jasa moneter dan kepuasan pribadi. Istilah wirausaha muncul kemudian setelah dan sebagai padanan wiraswasta yang sejak awal sebagian orang masih kurang sreg dengan kata swasta.


8 karakteristik kewirausahaan

Menurut para ali seperti M Scarborough dan Thomaas W Zimmer (1993 :6-7) mengemukakakn 8 karakteristik kewirausahaan yaitu:
1. Desire for responsibility
Yaitu memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya. Seseorang yang memiliki tanggung jawab akan selalu mawas diri.
2. Preference for moderate risk
Yaitu lebih memilih resiko yang moderat artinya selalu menghindari resiko baik yang terlalu rendah maupun yang terlalu tinggi.
3. Confidence in their ability to success
Memiliki kepercayaan diri untuk memperoleh kesuksesan.
4. Desire for immediate feedback
Selalu menghendaki umpan balik dengan segera.
5. High Level of energy
Memiliki semangat dan kerja keras untuk mewujudkan keingnannya demi masa depan yang lebih baik.
6. Future orientation
Beriorientasi serta memiliki perspektif wawasan jauh ke depan.
7. Skill at organizing
Memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
8. Value of achievement over money
Lebih menghargai prestasi dibanding uang.

Secara umum tahap-tahap melakukan wirausaha :
  1. Tahap memulai, tahap di mana seseorang yang berniat untuk melakukan usaha mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, diawali dengan melihat peluang usaha baru yang mungkin apakah membuka usaha baru, melakukan akuisisi, atau melakukan franchising. Juga memilih jenis usaha yang akan dilakukan apakah di bidang pertanian, industri / manufaktur / produksi atau jasa.
  2. Tahap melaksanakan usaha atau diringkas dengan tahap "jalan", tahap ini seorang wirausahawan mengelola berbagai aspek yang terkait dengan usahanya, mencakup aspek-aspek : pembiayaan, SDM, kepemilikan, organisasi, kepemimpinan yang meliputi bagaimana mengambil resiko dan mengambil keputusan, pemasaran, dan melakukan evaluasi.
  3. Mempertahankan usaha, tahap di mana wirausahawan berdasarkan hasil yang telah dicapai melakukan analisis perkembangan yang dicapai untuk ditindaklanjuti sesuai dengan kondisi yang dihadapi
  4. Mengembangkan usaha, tahap di mana jika hasil yang diperoleh tergolong positif atau mengalami perkembangan atau dapat bertahan maka perluasan usaha menjadi salah satu pilihan yang mungkin diambil.

Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (1996 : 3), proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausaha yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti locus of control, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman.
Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang. Oleh karena itu, inovasi berkembangan menajdi kewirausahaan melalui proses yang dipengrauhi lingkungan, organisasi dan keluarga (Suryana, 2001 : 34).

Secara ringkas, model proses kewirausahaan mencakup tahap-tahap berikut (Alma, 2007 : 10 – 12) :
  1. proses inovasi
  2. proses pemicu
  3. proses pelaksanaan
  4. proses pertumbuhan

Berdasarkan analisis pustaka terkait kewirausahaan, diketahui bahwa aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan wirausaha adalah :
  • mencari peluang usaha baru : lama usaha dilakukan, dan jenis usaha yang pernah dilakukan
  • pembiayaan : pendanaan – jumlah dan sumber-sumber dana
  • SDM : tenaga kerja yang dipergunakan
  • kepemilikan : peran-peran dalam pelaksanaan usaha
  • organisasi : pembagian kerja diantara tenaga kerja yang dimiliki
  • kepemimpinan : kejujuran, agama, tujuan jangka panjang, proses manajerial (POAC)
  • Pemasaran : lokasi dan tempat usaha


Proses kewirausahaan

Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave, proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengeruhi oleh berbagai faktor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi, seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan dan lingkungan.Faktor-faktor tersebut membentuk ‘’locus of control’’, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembangan menjadi wirausahawan yang besar. Secara internal, keinovasian dipengaruhi oleh faktor yang bersal dari individu, seperti ‘’locus of control’’, toleransi, nilai-nilai, pendidikan, pengalaman. Sedangkan faktor yang berasal dari lingkungan yang mempengaruhi diantaranya model peran, aktivitas, dan peluang.Oleh karena itu, inovasi berkembang menjadi kewirausahaan melalui proses yang dipengaruhi lingkungan, organisasi, dan keluarga.

Peranan kewirausahaan

         Peranan tidak hanya sekedar meningkatkan pendapatan perkapita tapi juga memicu dan mundukung perubahan struktur masyarakat dan bisnis.
         Dalam hal ini pemerintah dapat berperan sebagai inovator. Pemerintah akan bergerak sebagi pelindung dalam memasarkan hasil teknologi dan kebutuhan sosial.



KALKULASI HARGA PRODUK BERSAMA


BAB. VII
KALKULASI HARGA POKOK PRODUK SAMPINGAN DAN PRODUK BERSAMA
Pada umumnya setiap perusahaan industry akan menghasilkan lebih dari satu jenis produk. Produk yang memenuhi spesifikasi yang telah ditetapkan dan menjadi tujuan utama perusahaan merupakan produk utama (prime product), sedangkan produk yang tidak terelakkan untuk dihasilkan dan tidak menjadi tujuan utama perusahaan dapat dikategorikan menjadi dua macam ;
1.    Produk yang tidak mempunyai nilai ekonomis, sehingga tidak dapat dijual. Produ ini dikenal dengan istilah limbah industry (waste)
2.    Produk yang mempunyai nilai ekonomis berapapun besarnya, apakah akan menjadi bahan baku produk lain, atau dijual langsung kepasaran. Produk ini dapat dikategorikan produk samping (by-product)
Apabila beberapa jenis produk dihasilkan dari satu kali proses produksi  dengan biaya produksi yang sama, maka produk utama ini disebut produk bersama (joint product), sedangkan jika hanya menggunakan fasilitas  yang sama, namun dengan bahan baku yang berbeda untuk menghasilkan berbagai jenis produk utama, maka produk ini disebut produk sekutu (co-product).
Sifat Produk Sampingan
1.    Nilai jualnya relative lebih rendah dari produk lain yang dihasilkan bersamanya sebagai produk utama apabila dapat dijual
2.    Produk sampingan merupakan produk yang bukan tujuan utama usaha perusahaan
3.    Jika tidak laku dijual, produk sampingan dikategorikan sebagai limbah industry
Contoh produk sampingan :
a.    Serbuk kayu dalam industry penggergajian kayu
b.    Dedak dalam penggilingan padi
c.    Ampas dalam industry gula pasir
d.    Bungkil dalam industry minyak goring dari kacang tanah
Sifat Produk Bersama
1.    Dihasilkan dari biaya produk yang sama
2.    Dihasilkan dalam satu kali proses produksi
3.    Pada umumnya merupakan produk yang menjadi tujuan utama usaha perusahaan
4.    Produk-produk tersebut mempunyai nilai ekonomis yang relative seimbang sesuai dengan kualitasnya
5.    Tidak dapat dinyatakan sebagai limbah industry apabila produk tersebut tidak laku dijual
Contoh produk bersama :
a.    Pabrik gula pasir yang menghasilkan beberapa jenis gula dari segi kualitas kadar gula maupun bentuknya.
b.    Penggilingan padi menghasilkan beras dan menir.
c.    Eksploitasi minyak menghasilkan minyak bensin, solar, minyak tanah, dll.
Sifat Produk Gabungan
1.    Nilainya relative sama
2.    Merupakan produk utama sebagai tujuan usaha perusahaan.
3.    Dihasilkan dari bahan baku yang berbeda, namun dengan fasilitas yang sama.
Contoh produk sampingan :
a.    Industri  furniture dengan menghasilkan meja, almari, tempat tidur, dll.
b.    Indusrti penggergajian kayu menghasilkan papan dan balok dari jenis kayu yang berbeda.
c.    Percetakan dan penerbitan menghasilkan berbagai barang cetakan dari bahan yang berbeda dan buku-buku dari terbitan yang berbeda.
Menentukan Harga Pokok Produk Sampingan
1.    Produk sampingan akan menimbulkan masalah dalam akuntansi apabila dinyatakan telah dijual atau digunakan sebagai bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi produk lain.
Hasil penjualan produk sampingan dapat diberlakukan dengan cara-cara berikut:
Cara 1: Hasil penjualan produk sampingan dapat diberlakukan dengan salah satu cara sbb :
a.    Sebagai pendapatan lain-lain
b.    Penambah hasil penjualan produk utama
c.    Pengurang harga pokok penjualan produk utama
d.    Pengurang harga pokok produk utama
Perlakuan tsb apabila perusahaan menganggap ;
a.    Produk sampingan dijual tanpa memerlukan proses lebih lanjut.
b.    Produk sampingan tidak memerlukan biaya penjualan dan biaya administrasi secara khusus
c.    Nilainya relatife kecil.
Cara 2: pendapatan bersih dari hasil penjualan, ( hasil penjualan dikurangi dengan biaya produksi setelah titik pisah, biaya penjualan dan biaya administrasi) diperlakukan sebagaimana cara-cara pada cara 1. Perlakuan ini diterapkan apabila:
a.    Produk sampingan diproses lebih lanjut untuk dapat dijual.
b.    Penjualan produk sampingan memerlukan biaya penjualan dan atau biaya administrasi.
Cara 3 : taksiran nilai pasar atau nilai pembelian apabila perusahaan membeli produk yang sejenis dengan produk yang dihasilkannya dari luar.
2.    Produk sampingan diberlakukan sebagai persediaan, sehingga akan dilaporkan dalam laporan neraca. Perlakuan tsb diterapkan apabila:
a.    Manajemen menganggap produk sampingan mempunyai nilai ekonomis yang relative besar.
b.    Perusahaan akan memproses produk sampingan lebih lanjut.


Contoh :
Diproduksi 44.000 kg produk utama dengan biaya produksi Rp 7.50/unit
Persediaan produk jadi awal sebanyak 4.000 unit dengan harga pokok Rp 7.50/unit
Dijual produk utama 42.000 unit @ Rp 12/unit
Produk sampingan laku dijual Rp 52.000, termasuk untuk produk sampingan Rp 5.000
Beban administrasi umum Rp 45.000 termasuk untuk produk sampingan Rp 1.500
Diminta : Buatlah Laporan Laba rugi.
CV NUGRAHA
LAPORAN LABA RUGI
Periode 31 Desember 2004

Penjualan (produk utama) : 42.000 x Rp 12                                                                           Rp 504.000,-
Harga Pokok Penjualan:
Persediaan awal :               4.000 x Rp 7.50                                Rp    30.000,-
Biaya Produksi :                                44.000 x Rp 7.50                                Rp  330.000,-
                                                48.000 x Rp 7.50                                Rp  360.000,-
Persediaan akhir :              6.000 x Rp 7.50                                Rp    45.000,-
Harga Pokok Penjualan                                                                                               Rp 315.000,-
Laba Bruto                                                                                                          Rp 189.000,-
Beban Operasi :
Beban Penjualan                                                                              Rp    52.000,-
Beban administrasi umum                                                           Rp    45.000,-
Total Beban Operasi                                                                                                                       Rp     97.000,-
Pendapatan lain-lain :
Hasil penjualan produk sampingan                                                                                           Rp        5.000.-
Laba Sebelum Pajak                                                                                       Rp      97.000,-
               




                                                                                                                                                                                                               


 











Biaya Bersama
Biaya bersama (joint cost) atau dikenal juga biaya produksi bersama (joint production cost) adalah biaya produksi yang terdiri dari bahan baku, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang sama dalam satu kali proses produksi menghasilkan berbagai produk utama. Jenis-jenis produk yang dihasilkan tersebut dapat dibedakan berdasarkan kualitas, bentuk fisik, sifat, dll. Perusahaan penggilingan padi merupakan salah satu contoh proses produksi yang menghasilkan berbagai jenis produk ( beras kepala, beras pecah, menir, dedak halus, dan dedak kasar ) dalam satu kali proses dengan bahan baku, tenaga kerja dan overhead pabrik yang sama industry gula putih, dengan kualitas I, kualitas II dan kualitas III.
Alokasi Biaya Bersama
Permasalahan yang timbul dalam akuntansi biaya untuk biaya bersama adalah menentukan harga pokok produksi untuk masing-masing jenis produk yang telah teridentifikasi pada saat titik pisah dalam satu proses produksi.
Penentuan Harga pokok produksi untuk masing-masing jenis produk yang dihasilkan dalam satu kali proses produksi dapat dilakukan dengan cara alokasi, dengan menggunakan salah satu dari metode-metode berikut :
1.    Metode nilai jual masing-masing jenis produk
2.    Metode rata-rata biaya persatuan
3.    Metode rata-rata tertimbang
4.    Metode satuan fisik
Metode Nilai Jual/Harga Pasar
Dalam metode ini biaya bersama dialokasikan ke masing-masing jenis produk atas dasar total nilai jual masing-masing produk. Oleh karena itu metode ini hanya dapat digunakan apabila harga jual masing-masing jeis produk dapat ditentukan / diketahui sebelum produk tsb dijual.
Contoh : PT. Anggaraksa Jaya menghasilkan produk bersama jenis A, B dan C. masing-masing 50.000 kg, dengan taksiran harga jual per Kg masing-masing Rp 150. Rp 125, dan Rp 50. Biaya produksi sebesar Rp 7.500.000 maka alokasi biaya bersama adalah sbb:
Produk
Kuantitas (Kg)
Harga (Rp)
Total Harga (Rp)
Nilai Jual (Rp)
Harga Pokok (Rp)
A
B
C
50.000
40.000
50.000
150
125
50
7.500.000
5.000.000
2.500.000
50,00
33,00
16,67
3.750.000
2.500.000
1.250.000


Metode Rata-rata Biaya Satuan
Alokasi biaya bersama dengan metode rata-rata biaya satuan dapat digunakan apabila berbagai jenis produk dapat dihasilkan dalam satu proses produksi yang sama dan mempunyai ukuran yg sama atau dapat dipersamakan.
Contoh:
Dalam satu kali proses produksi telah dihasilkan produk jenis A sebanyak 6000 kg, produk B sebanyak 7000 kg dan produk C sebanyak 5000 kg. dengan total biaya produksi sebesar Rp 9.000.000, maka rata-rata biaya per Kg adalah:
Total Biaya Bersama Rp 9.000.000  = Rp 500,-
Total kuantitas                      18.000
Metode Rata-rata Tertimbang
Metode rata-rata biaya persatuan sering tidak dapat memecahkan masalah kesesuaian pembebanan biaya persatuan, karena semua jenis produk dengan kualitas yang berbeda akan dibebani dengan biaya per satuan yang sama,padahal perbedaan jenis produk secara individual sangat mencolok
Metode Satuan Fisik
Metode satuan fisik hanya dapat dipergunakan sebagai dasar alokasi biaya bersama jika produk yang dihasil kan mempunyai ukuran yang sama misalnya pon,galon,dan ton.
Analisis Biaya dan Keputusan Manajemen
Pada dasarnya metode-metode alokasi biaya bersama tidak dapat membagikan biaya secara adil untuk berbagai jenis produk bersama, dan juga tidak dapat memberikan solusi atas masalah-masalah untuk berbagai tujuan manajerial. Alokasi biaya ini hanya dapat memberikan informasi tentang kontribusi marjin suatu jenis produk bersama secara individual, namun tidak dapat dijadikan dasar utama kebijaksanaan manajemen.

BAB. XIX
KALKULASI BIAYA LANGSUNG DAN MARJIN KONTRIBUSI

Pengertian Kalkulasi Biaya Langsung
Kalkulasi biaya langsung (direct costing) atau dikenal pula sebagai kalkulasi biaya variable atau kalkulasi biaya marjinal hanya membebani produk dengan biaya pabrikasi yang bervariasi langsung dengan volume. Biaya utama (biaya bahan baku dan upah pekerja langsung) ditambah overhead variable dibebankan ke persediaan, yakni barang dalam proses dan barang jadi, dan keharga pokok penjualan.
Sasaran Kalkulasi Biaya Langsung
1.    Kegunaan internal yang dapat diperoleh dari hubungan biaya tetap variable dan konsep marjin kontribusi
2.    Kegunaan eksternal yang berkaitan dengan penetapan biaya persediaan, penentuan besarnya laba, dan penyususnan laporan keuangan.

Perencanaan Laba                                                                                                                      Kalkulasi Biaya Persediaan
Penetapan Harga Pokok                                                                                                            Penentuan Jumlah Laba
Pengambilan Keputusan           Kegunaan Internal                    Kegunaan Eksternal  
Pengendalian Biaya                                                                                                                     Pelaporan Keuangan

Produk dan Biaya
 








Definisi Marjin Kontribusi
Marjin kontribusi (Laba marjinal), adalah selisih diantara hasil penjualan dan biaya variable. Hal itu dihitung dengan mengurangkan semua biaya variable, baik biaya pabrikasi maupun non pabrikasi, dari hasil penjualan.

Kegunaan Internal dari Kalkulasi Biaya Langsung

Manajer eksekutif yang meliputi eksekutif pemasaran, manajer produksi, dan analisis biaya sering kali membanggakan potensi kalkulasi biaya langsung dalam hal perencanaan, pengendalian dan analisis. Biaya tetap yang dihitung atas dasar per unit menurut kalkulasi biaya absorpsi cenderung berubah mengikuti perubahan volume produksi dan penjualan.
Kalkulasi biaya langsung sebagai alat perencanaan laba, yang sering kali disebut juga sebagai anggaran atau rencana operasi, meliputi semua tahapan dari operasi dimasa mendatang guna mencapai sasaran laba yang telah ditetapkan.
Biaya variable dan marjin kontribusi memungkinkan kita untuk memperkirakan laba secara cepat dan tepat guna mengambil keputusan dalam jangka pendek. Dalam penetapan harga berbagai jenis produk, manajemen perlu mengetahui apakah setiap produk dapat ditetapkan harganya agar mampu bersaing dan masih menghasilkan marjin kontribusi yang memadai bagi perusahaan sehingga dapat menutup biaya tetap dan menghasilkan laba.

Kegunaan Eksternal dari Kalkulasi Biaya Langsung

Bahwa pemisahan biaya tetap dan variable, serta akuntansi untuk masing-masing dengan metode yang menyerupai metode kalkulasi biaya langsung akan menyederhanakan baik pemahaman atas perhitungan rugi-laba maupun pembebanan biaya pada persediaan. Untuk menjaga agar overhead pabrik  tetap tidak dilaporkan dalam biaya produk, maka biaya variable dan tetap harus dicatat pada perkiraan terpisah.
Laba Operasi, diperhitungkan tidaknya beban tetap dalam menilai persediaan dan harga pokok penjualan akan menyebabkan perbedaan besar antara laba kotor dengan marjin kontributor kotor.

Marjin kontribusi sama dengan penjualan dikurangi biaya variabel
CM = S – VC
Marjin kontribusi per unit sama dengan harga jual unit dikurangi biaya variabel per unit
CMu = SP – VCu
Marjin kontribusi juga sama dengan marjin kontribusi per unit dikalikan jumlah units terjual
CM = CMu x Q
Rasio marjin kontribusi (persentase) sama dengan marjin kontribusi per unit dibagi harga jual
CMR = CMu ÷ SP
margin Kontribusi adalah konsep akuntansi biaya yang memungkinkan perusahaan untuk menentukan profitabilitas produk individu. Menghitung untuk margin kontribusi membantu dalam mengukur kegagalan atau keberhasilan lini produk perusahaan dengan mencocokkan Facebook profitabilitas satu baris dengan yang lain. Dengan sistem ini, Anda akan dapat menentukan produk apa yang anda perlu menambahkan atau menghapus dari lini produk untuk meningkatkan pendapatan. Pilihan mengurangi biaya variabel dan meningkatkan harga jual juga tersedia bagi para manajer dalam meningkatkan margin kontribusi.
Industri ritel bergantung pada perhitungan margin kontribusi produk mereka menangani dalam menentukan jika produk-produk ini menguntungkan atau tidak. Dari berbagai pilihan produk merek campuran atau yang biasa dikenal di bisnis ritel sebagai campuran produk, memilih dua produk merek yang berbeda. Mari kita katakan dua merek yang berbeda dari serealia yang memiliki harga yang sama. Meskipun kedua sereal adalah dihargai sama, margin kontribusi kedua produk bervariasi dari satu sama lain. Umumnya, dengan menghitung untuk margin kontribusi produk individu, Anda akan dapat untuk menentukan produk yang lebih menguntungkan untuk bisnis Anda. Berikut ini adalah melihat lebih dalam tentang cara menghitung untuk margin kontribusi.
Produk pendapatan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menghitung total penjualan produk Anda. total penjualan Anda adalah total kotor semua item yang dijual. Anda bisa mendapatkan angka ini oleh laporan penjualan baik dari penjualan mendaftar atau mengakses program penjualan komputer Anda. Ingat bahwa total tidak termasuk biaya tetap. Tetap terkunci-biaya yang tidak langsung berhubungan dengan penjualan dan tidak dalam bidang margin kontribusi.
Dikurangi biaya variabel. Dengan angka total penjualan, Anda sekarang perlu untuk mengurangi biaya variabel. Variabel mencerminkan pengeluaran untuk memproduksi dan menjual produk seperti produksi, pengemasan, biaya tenaga kerja, komisi penjualan, pengiriman, pemasaran langsung dan sejenisnya. Apa pun yang terlibat dalam produksi dan penjualan produk berada di bawah lingkup biaya variabel.

Kontribusi perbandingan margin. ” Setelah Anda memiliki margin kontribusi total produk individual pada baris produk Anda, Anda akan perlu untuk membandingkan antara semua produk Anda. Setelah mengumpulkan data, sekarang Anda akan dapat membuat keputusan pemasaran yang tepat untuk meningkatkan penjualan dan keuntungan perusahaan Anda. Anda dapat mengubah harga produk tertentu atau bahkan menghapus produk tertentu dari lini produk Anda.
Dijadwalkan analisis. Untuk bisnis ritel, praktek komputasi untuk margin kontribusi harus merupakan proses yang berkelanjutan dan harus dilakukan secara teratur. Tergantung pada ukuran staf Anda, Anda dapat melakukan prosedur ini bulanan, kuartalan, atau semi-tahunan. Kebanyakan bisnis melakukan perhitungan dan perbandingan margin kontribusi secara bulanan untuk membantu mereka melacak kinerja produk mereka lebih akurat.